Aaron Dessner, Sosok Penting di Balik Album 'Indie' Taylor Swift, ‘folklore’
Salah satunya nama paling besar arena pop dunia, Taylor Swift, barusan mengeluarkan album terbaru di hari Jumat (24/7) tempo hari. Folklore judulnya, serta seperti umumnya musikus aktif lain, dia sebuah album yang keutuhannya ditangani semasa jalani proses karantina. Tetapi tidak sama dari album-album Swift awalnya, folklore ditargetkan jadi album "indie" si popstar.
| Teknik Dasar Bermain Over Under |
Kita sudah (serta masih) merasai saat-saat karantina. Banyak yang berlangsung saat sangat terpaksa mengisolasikan diri; perubahan agenda serta gagasan, beberapa ide liar banyak muncul, sampai membuat koneksi baru. Ya koneksi baru--meskipun serba daring. Itupula yang berlangsung pada Taylor Swift sampai bersumber pada album nomor delapannya ini.
Bicara koneksi baru, ialah Aaron Dessner, gitaris serta penulis lagu dari group indie rock ternama The National. Bersama-sama Jack Antonoff (Bleachers, fun, salah satunya produser folklore), figur Aaron cukup penting dalam folklore, dia terjebak dalam 11 dari keseluruhan 16 trek yang isi repertoarnya. Secara singkat, mungkin logis bila mengatakan jika kedatangan Aaron Dessner dalam proses tulisan album ini menjadi titik sentra yang memberi suntikan "indie" ke dalamnya.
Hasilnya? Satu album yang karismatik. Memperbandingkannya dengan album-album Swift awalnya, folklore berkesan minimalis. Nuansanya bertambah gloomy serta dingin, tampilkan estetika yang lain dari Swift serta musiknya yang awal diketahui lewat hidangan musik country, lantas jadi singer-songwriter/popstar kelas dunia lewat musik pop yang festive.
Folklore tampilkan banyak ruangan dalam dari strings, cuplikan gitar yang terisolir, serta situasi yang bertambah gelap. Walau style songwriting Swift--terutama pada pola lirik--tidak banyak beralih, folklore jadi warna baru dalam diskografi si popstar. Beberapa suara drone/ambient, estetika murung, serta musik yang personal--inilah yang ada dari Taylor Swift saat bermain dengan ketentuannya sendiri.
Dalam wawancaranya dengan Pitchfork, Aaron Dessner akui telah mulai bekerjasama dengan Swift untuk folklore sejak awal Maret, bertepatan dengan project Big Red Machine-nya dengan Justin Vernon (Bon Iver, yang ikut memberi vokal di folklore). Saat masuk waktu karantina, Aaron mulai menulis banyak lagu di studionya, hingga saat Swift mengontaknya untuk bekerja bersama, dia telah mempunyai segudang materi di kantong.
Aaron serta Swift terkait setiap hari semasa tiga sampai empat bulan lewat pesan teks serta jaringan telephone. Mereka mengulas apa saja itu dari produksi sampai susunan lagu. "Kita berasa berikut karya paling baik kita semasing. Rasa-rasanya aneh serta surreal, khususnya di saat-saat semacam ini," terangnya.
Penggarapan folklore berjalan dibalik monitor. "Tidak ada impak luar benar-benar," tutur Aaron saat diberi pertanyaan bagaiman rasa-rasanya kerja dengan Swift dengan cara rahasia. "Serta, tidak ada yang mengetahui, termasuk juga labelnya, sampai beberapa saat sebelum albumnya melaju. Untuk seorang yang telah ada di bawah sorotan dunia semasa 15 tahun penuh, kemungkinan rasa-rasanya benar-benar lega untuk dapat kerja dengan privacy serta ketentuannya sendiri. Ia memiliki hak atas ini semua."
Aaron memberikan tambahan: "Ada saatnya waktu saya ingin memperdengarkan materinya pada rekan-rekan. Jadi sedikit susah sebab tidak dapat mengirim file dengan vokalnya. Sedikit hebat , semua mulai menebak project ini serta jadi seperti satu permainan."
Dengarkan kesatuan folklore di kanal YouTube Taylor Swift, atau di service streaming musik favorite kalian. Awasi terus SUPERMUSIC untuk artikel-artikel hebat sekitar musik pop yang lain!
