4 Alasan ‘Scott Pillgrim Vs. The World’ Jadi Film Ikonis Kancah Indie Rock
Bicara sekitar film cult memang tidak ada matinya, serta pada tahun 2020 ini, salah satunya cult movie favorite beberapa movie geek sampai indie rockers, sah berumur satu dasawarsa. Siapa yang dapat lupa Scott Pilgrim Versus. The World? Menggabungkan balada cinta remaja dengan lelaguan indie rock–sajian resep yang cocok untuk masuk daftar film kultusan yang tidak lekang waktu, kan? Terinsiprasi dari grafis novel karya Bryan Lee O'Malley, sutradara Edgard Wright sukses mengolah hidangan layar-lebar yang masih tetap berkaitan sekitar remaja, cinta, serta musik; serta sampai saat ini.
| Teknik Dasar Bermain Over Under |
Dalam kesempatan ini, SUPERMUSIC sudah mejabarkan 4 hal mengapan Scott Pilgrim Versus. The World memiliki hak atas posisi kultusannya, kenapa dia jadi film ikonik arena indie rock. Ingin tahu? Baca selengkapnya berikut ini:
1. Hollywood Flop?
Entahlah telah hukumnya, atau karena punya pengaruh dalam periode panjang, banyak film-film dengan status kultusan itu tidak berlaku bagus di dalam hitungan Hollywood--bahkan, beberapa termasuk tidak berhasil. Scott Pilgrim tidak sendirian; ada Donnie Darko (2001), Fight Klub (1999), Dazed and Confused (1993), Blade Runner (1982), sampai The Big Lebowski (1998); semua film ini tidak berlaku baik dikalanya launching, penjualannya tiketnya tidak kembali keuntungan yang besar, beberapa salah satunya serta tidak untung.
Mungkin, kejadian ini lah yang punya pengaruh pada posisi kultusan satu film. Tidak berhasil berlaga di Hollywood membuat tidak demikian disorot, hingga tidak memperoleh pasar yang luas sesudah tampil. Disana, posisinya mulai berubah di arus samping peredaran film, membuat jadi hidangan layar-lebar yang cuma di nikmati oleh beberapa pasang mata yang serius menikmatinya. Kadang, sorotan berlebihan memang tidak selalu membuahkan hal baik, sedang yang terselubung malah jadi karena yang tidak diakui.
Scott Pilgrim ada dengan jalan cerita yang ramah dengan beberapa nerds, geeks, serta penggemar musik, itu penyebabnya arus samping jadi jalan penjualan yang pas untuk membawanya ke mata serta hati yang pas.
2. Launching di saat yang pas
Walau tidak berlaku baik di Hollywood, rilisnya film yang menjadi gudang anthem indie rock ini datang di saat yang pas. Kenapa? Sebab dia tampil di peristiwa peralihan indie rock yang membumbung jadi subkultur yang prominen buat pasar musik dengan cara luas. Sebelum 2010, geliat indie rock sudah masak, tetapi dia masih bersarang pada beberapa blog musik bawah tanah serta cuma diputar serta dimainkan di klab-klab yang termasuk kecil.
Tahun 2010 jadi tahun peralihan buat musik itu, salah satunya sulut besarnya ialah album The Suburbs punya Arcade Fire yang menggandeng Album of the Year di tempat Grammy, menaklukkan beberapa nama besar arus penting jenis Lady Gaga, Katy Perry, serta Eminem.
Sejak waktu itu, batasan geek serta cool juga berasa dilebur. Indie rock yang diketahui untuk musik remaja-remaja kutu buku berkesan "naik pangkat" di strata sosial barat. Itu juga yang menolong Scott Pilgrim amankan posisinya untuk cult movies yang hip. Geek is the new cool.
3. Cerita yang berkaitan
Untuk satu film yang diaptasi dari novel grafis, plot-nya tampilkan perjalanan (serta perjuangan) Scott Pilgrim yang akan memenangi hati gadis pilihan baru di sekolahnya, Ramona. Bertemu dengan seven evil exes (bekas pacar) Ramona, Scott Pilgrim maju dengan bekal gitar serta distorsi, kupas beberapa side jokes serta inside jokes skena musik pilihan yang tidak lekang oleh waktu, serta sampai saat ini.
Kecuali ulasan yang masih berkaitan, ceritanya juga gampang diterima oleh beberapa remaja, penggemar musik. Roman asmara SMA yang quirky berasa pas target pada pasar tujuan, membuat mengepak pengalaman melihat film yang menghibur sekaligus juga relatable. Sama dengan gimmick-gimmick musiknya, plot film ini juga terus berlaku baik meskipun telah berumur satu dasawarsa.
4. Soundtrack Ikonis
Untuk satu film yang menangku musik untuk faktor penting didalamnya, lebih-lebih musik indie rock yang menjadi pujangga keremajaan, penggarpan film Scott Pilgrim Versus. The World juga harus putar otak dalam membuat soundtrack. Lagu-lagu pengiring mempunyai peranan yang besar dalam satu film, serta buat film jenis Scott Pilgrim, peranan itu berasa di amplifikasikan. Pokoknya, soundtrack jadi salah satunya hal yang akan paling dipandang dalam Scott Pilgrim, mengingat penonton-penontonnya beberapa adalah pencinta musik.
Atas semuanya, film ini dapat menanggapi rintangan besarnya. Dari mulai cover "By Your Side" punya Sade dari Beachwood Sparks, "I Heard Ramona Sing" punya Frank Black, "O Katrina!" dari Black Lips, dan T. Rex dengan "Teenage Dream", sampai "Anthems for a Seventeen Year Old Girl" punyai Broken Social Scene serta "Under My Thumb"-nya The Rolling Stones; barisan soundtrack Scott Pilgrim menyediakan musik rock yang dapat bergetar pada sebuah vibra yang cocok dengan plot, mood, serta karakter filmnya.
Bila alur ceritanya mahir dalam tampilkan kenyataan dunia musik circa 2000-an awal, soundtracknya dapat memberi warna semuanya dengan cara handal. Lagu-lagu yang masuk ke soundtrack-nya diambil langsung oleh si sutradara Edgar Wright serta penulis novel grafisnya, Bryan Lee O'Malley. Walau demikian, kita harus juga angkat topi untuk figur Music Supervisor yang didapuk dalam penggarapannya, yaitu Kathy Nelson, yang CV-nya telah diisi oleh film-film hebat jenis High Fidelity, Pulp Fiction, Dangerous Minds, sampai Eternal Sunshine serta ada banyak lagi.
